Search
10 Alasan Mengapa Sholat Harus Menggunakan Bahasa Arab

10 Alasan Mengapa Sholat Harus Menggunakan Bahasa Arab

mengapa sholat harus menggunakan bahasa arab
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa islam mengharuskan umatnya untuk mendirikan sholat dengan menggunakan bahasa arab? Bukankah Allah mengerti semua bahasa? Lantas mengapa harus bahasa arab yang digunakan dalam sholat?

Apakah ada niat terselubung untuk menyebarkan paham arabisme kepada dunia, atau gampangnya islam adalah arabisasi secara global?

Tunggu-tunggu, mari kita bahas bersama-sama mengenai permasalahan ini

Jumhur ulama mengatakan bahwa shalat itu harus dengan menggunakan bahasa arab. Sebab dahulu Rasulullah SAW mengajarkan demikian kepada orang Arab dan juga kepada orang-orang non Arab.

Ketika Rasulullah SAW masih hidup ada Salman Al-Farisy yang berasal dari Persia, namun belum pernah Rasulullah SAW memberikan keringangan kepada Salman untuk sholat dengan menggunakan bahasa Persia.

Ada juga Syuhaib Ar-Rumi yang berasal dari Romawi. Namun Rasulullah SAW tidak pernah membolehkannya sholat dengan bahasa Romawi.

Bahkan ada juga Bilal bin Rabah al-Habsyi yang berasal dari Habasyah, Afrika. Namun Rasulullah SAW tidak pernah membolehkannya sholat dengan bahasa dari daerahnya.

Dan ketika Islam mampu melebarkan sayap ke luar wilayah Arab, belum pernah Rasulullah SAW membolehkan orang-orang yang bukan dari Arab untuk sholat dengan bahasa mereka masing-masing.

Demikian juga dengan para sahabat yang meneruskan misi penyebaran Islam ke berbagai penjuru dunia. Tidak satu pun dari mereka yang pernah membolehkan orang sholat dengan bahasa selain arab.

Bahkan di luar shalat pun bahasa yang digunakan justru bahasa Arab. Mesir, Iraq, Palestina, Suriah, Jordan dan wilayah lainnya dahulu bukanlah wilayah Arab dan masyarakatnya tidak berbahasa Arab.

Namun begitu Islam sampai di negeri itu, bahasa Arab lantas menjadi bahasa ibu mereka dengan nyaris melupakan bahasa asli mereka. Hari ini orang-orang di Mesir tidak bisa berbahasa sebagaimana yang dulu dipakai oleh Firaun.

Tuh kan bener, Islam berarti Arabisasi banget dong. Gak ada bedanya sama komunisme.”

Tunggu dulu, belum selesai.

Mengapa Sholat Harus Menggunakan Bahasa Arab
Imam Abu Hanifah | Sumber : kajikisah.blogspot.com

Foto tersebut adalah lukisan Imam Abu Hanifah. Seorang pendiri dari Madzhab Yurisprudensi Islam Hanafi.

Kutipan bahwa Imam Abu Hanifah pernah membolehkan seseorang shalat dengan bahasa Arab adalah kutipan yang tidak sempurna. Sebab para muhaqqiqun (ahli tahqiq) atau para peneliti sumber-sumber rujukan mendapatkan bahwa akhirnya Imam Abu Hanifah tidak mengatakan demikian.

Yang benar adalah bahwa beliau membolehkan shalat dengan bukan bahasa Arab khusus hanya untuk seorang muallaf (orang yang baru saja masuk Islam) yang tidak mampu membunyikan atau melafalkan bahasa Arab. Sedangkan buat mereka yang bisa melafazkannya, haram hukumnya untuk melakukan hal itu.

Dalam salah satu kitab mazhab Al-Hanafiyah, Al-Inshaf disebutkan bahwa bila seseorang tidak mampu mengucapkan bacaan shalat dalam bahasa arab, dia diharuskan untuk mengucapkan (subhanallah, walhamdulillah wala ilahaillahllah). Demikian juga yang disebutkan dalam kitab Al-Kafi dan Al-Hadi. Dalam kitab mazhab al-Hanafiyah yang lainnya yaitu Al-Furu` disebutkan bahwa diharamkan untuk menterjemahkan Al-Fatihah dalam shalat.

Jumhur ulama mengatakan bila seseorang bisa melafazkan bahasa Arab dalam shalatnya namun malah menggunakan bahasa selain Arab, maka shalatnya batal dengan sendirinya. Shalat itu tidak syah dan tidak diterima oleh Allah SWT.

Mengapa Shalat Harus dengan Bahasa Arab

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menuliskan dalam kitab fiqih fenomenalnya, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazzab,

“Terjemah Al-Quran itu bukan Al-Quran itu sendiri sebagaimana ijma’ seluruh umat Islam. Semua orang pasti setuju bahwa bila ada seseorang membaca terjemahan Al-Quran dengan bahasa India, dia bukan sedang membaca Al-Quran. Tafsir atau terjemahan syair Imru’ul Qais itu bukanlah syair beliau itu sendiri. Apalagi dengan Al-Quran, terjemahan Al-Quran pastilah bukan Al-Quran itu sendiri. Apalagi kita tahu bahwa Al-Quran itu adalah mukjizat dan bahwa terjemahan itu bukan mukjizat.”

Kalau dahulu Imam Abu Hanifah pernah memberikan keringanan untuk itu, tentu karena kasus yang sangat khusus saja. Namun hari ini, orang-orang yang kurang paham menggunakan apa yang pernah dikatakan oleh beliau sebagai sebuah cara untuk meruntuhkan sendi-sendi syariat Islam.

Seandainya Imam Abu Hanifah masih hidup hari ini, pastilah beliau akan mengatakan bahwa orang yang membolehkan shalat dengan bahasa selain Arab sebagai sesat dan menyesatkan.

Ada beberapa poin penting alasan mengapa Sholat harus menggunakan bahasa Arab

Poin pertama: Dapat dikatakan bahwa dalil utama mengapa shalat harus dikerjakan dengan menggunakan bahasa Arab, setelah mengetahui bahwa shalat merupakan Sunnah Rasulullah dan ibadah tauqifi (dikerjakan sesuai dengan bentuk yang ditetapkan Allah Swt), adalah untuk menjaga dan memelihara shalat sepanjang perjalanan abad dan masa tanpa adanya pengurangan dan penambahan.

Dan apabila orang-orang mengerjakan shalat dengan bahasa ibu dan bahasa daerahnya masing-masing maka boleh jadi akan terjadi penambahan dan pengurangan lafaz, distorsi dan tercampurnya dengan berbagai khurafat dan masalah-masalah yang tak-berdasar pada shalat.

Barangkali perubahan-perubahan ini, akan berpengaruh pada kewajiban-kewajiban dan rukun-rukun shalat lainnya. Dan tidak menutup kemungkinan secara perlahan inti shalat akan hilang signifikansinya dan karena intinya telah hilang perlahan keseluruhan akan dilupakan.

Jelas bahwa supaya segala sesuatunya terpelihara dan terjaga selamanya sepanjang sejarah maka ia harus memiliki kriteria dan neraca yang tidak berubah-ubah; seperti dalam masalah ukuran, milimiter, sentimeter atau meter dan terkait dengan urusan berat, gram, kilogram dan sebagainya yang digunakan sebagai kriteria dan pakem yang mengalami perubahan.

Contoh lainnya seperti beberapa karakter film, seperti Sherlock Holmes, Harry Potter, James Bond dan yang lainnya.

Yang membuat mereka tetap dikenang oleh para fans atau pengagumnya adalah mereka memiliki karakter dan ciri khas khusus. Dengan begitu karakter-karakter tersebut tidak akan pernah terlupakan karena memiliki cira khas nya masing-masing.

Shalat juga demikian adanya, beberapa hal yang dinamakan sebagai kewajiban-kewajiban dan rukun-rukun digunakan sebagai kriteria dan pakem dimana salah satu darinya adalah keharusan menggunakan bahasa Arab dalam mengerjakan shalat.

Poin Kedua: Islam merupakan agama global dan universal yang ingin menempatkan seluruh kaum Muslimin pada barisan dan jejeran yang satu. Untuk membentuk masyarakat yang satu tidak mungkin dapat tercapai tanpa bahasa yang satu yang menjadi media mereka untuk berkomunikasi dan saling memahami.

Oleh sebab itulah mengapa perlu adanya satu bahasa yang menjadi bahasa penghubung dari para kaum muslimin tersebut.

Dan bahasa Arab sesuai dengan pengakuan para ahli bahasa, merupakan bahasa yang paling komplit dan menyeluruh dari bahasa-bahasa yang ada di dunia. Bahasa Arab ini dapat menjadi satu bahasa internasional dan bahasa shalat seluruh kaum Muslimin, formula wahdah (kesatuan) dan perlambang persatuan kaum Muslimin; kaidah ini juga dapat dijumpai pada aturan-aturan Islam lainnya seperti mengerjakan shalat dengan menghadap kiblat.

Poin Ketiga: Mungkin terlintas dalam benak kamu bahwa mengkondisikan dan memaksa seseorang yang tidak menguasai bahasa Arab untuk mengerjakan shalat dengan menggunakan bahasa Arab akan menciptakan kesulitan bagi mereka dan konsekuensinya adalah berlaku aniaya kepada mereka.

Dalam menjawab persoalan ini harus dikatakan bahwa bagi orang-orang yang ingin memenuhi hajat kesehariannya terkondisi menggunakan puluhan terminologi bahkan ratusan istilah asing, mereka tahu bahwa kalimat-kalimat shalat yang terdiri dari himpunan kalimat wajib (dengan menghapus kalimat-kalimat ulangan) kira-kira menjadi 20 kalimat saja.

Tentu hal ini bukan merupakan suatu hal yang sulit dilakukan. Dari sisi lain, makna lahir dan permukaan kalimat-kalimat shalat sangat sederhana, mudah dan seluruh orang dapat dengan mudah mempelajari makna lahir dan permukaan kalimat Bismihillahirrahmanirahim (Dengan Menyebut Nama Allah Yang Mahakasih dan Mahasayang) dan seterusnya. Meski kalimat ini mengandung kalimat yang dalam dan luas.

Poin Keempat: Dalam perspektif linguistik, bahasa Arab merupakan bahasa yang paling komplit sedunia sehingga berbagai konsep dan pahaman yang luas dan mendalam dapat dengan mudah dijelaskan dalam beberapa format indah.[1]

Satu-satunya bahasa yang kumpulan hurufnya sangat konsisten baik dari tulisan maupun pelafalan adalah Al Lughotun Al Arobiya (Bahasa Alquran, bukan bahasa Arab sehari-hari).

Misalnya dibandingkan dengan bahasa latin, huruf Alif bila kita tanya ke semua muslim di dunia maka mereka tetap melafalkannya dengan [Alif].

Dalam bahasa latin, huruf [i] dilafal [i] di Indonesia, tapi di Amerika akan dilafal [ai], dan di Prancis justru dilafalkan dengan [a].

Contoh lain, huruf

[c]

, di negeri barat kadang dilafalkan dengan bunyi [c], [s], dan

[k]

. Contoh : Charlie buy some machine at Chicago. Huruf [c] dalam bahasa latin sangat tidak konsisten pelafalannya.

Di kalangan orang minang bahkan ada gurauan yang menggambarkan inkonsistensi bahasa latin : “O-Ne tulisannyo, Wan dibacanyo, ah iko ciek artinyo” (O-Ne tulisannya, Wan dibacanya, ah itu satu artinya).

Bahasa Arab adalah akar bahasa dunia, tidak hanya dari perspektif sejarah. Unsur huruf dan bunyi lafalnya bisa dilihat dari berbagai bahasa di dunia.

Contoh : F4 (baca: ef tse). Dalam bahasa mandarin, hitungan 4 (empat) dibaca tse, yg dalam bahasa Arab adalah huruf keempat dalam urutan hijaiyah, yaitu huruf [tsa].

[syin] dalam huruf hijaiyah juga digunakan di negeri berbahasa Inggris, contoh dalam pelafalan machine.

Di Jerman dan Belanda huruf [ghoin] pada huruf hijaiyah digunakan untuk melafalkan kata Guten Morgen (baca: hute morhen), guye morgen (baca: huye morhen).

Di Prancis juga banyak menggunakan hukum hijaiyah ikhra, misal pada kata bonjour (baca: bongsua), dan masih banyak lagi.

Bahasa Arab sangat sehat dilihat dari tinjauan medis.Tatkala kita melafalkan huruf hijaiyah (Alif, Ba, Ta, Tsa, dst) hormon tertentu akan diproduksi oleh kelenjar pituitary yang ada di otak kita, disebabkan oleh stimulus yang dilakukan lidah terhadap simpul syaraf yang banyak terdapat di rongga mulut.

Kinerja lidah juga berefek pada hormon dari kelenjar pineal sehingga memberikan rasa teduh, nyaman, tenang, dan damai di jiwa ketika benar melafalkan doa atau bacaan sholat. Getaran pita suara yang dihasilkan oleh pelafalan setiap huruf hijaiyah yang benar dan tepat juga akan menggetarkan organ-organ tubuh kita secara elektromagnetik.

Huruf hijaiyah tersebut adalah

[ain] untuk ginjal,

[ghoin] untuk paru-paru,

[kha] untuk jantung, dan sebagainya.

Rahasia lain dibalik bahasa Arab Alquran (Arab) adalah bisa menghasilkan energi dan aura tertentu. Lafadz Allah (gabungan huruf Alif Lam Lam Ha), jika di foto aura mengeluarkan pendar cahaya yang menyilaukan.

Disebuah literatur martial arts berbahasa Jepang pernah memaparkan bahwa air putih yang dibacakan kata-kata atau doa diatasnya, molekul airnya (diamati mikroskop) berubah sesuai dengan doa yang dibacakan. Bila buruk arti katanya maka buruk pula bentuk molekulnya, demikian sebaliknya. [5]

Untuk sekedar diketahui, Penelitian medis ini dilakukan oleh orang Jepang yang bukan orang muslim

Poin Kelima: Penggunaan lafaz dan penyebutan zikir pada setiap hukum dan ibadah dengan bahasa Arab bukan merupakan syarat lâzim (syarat yang harus ada). Misalnya berdasarkan pandangan sebagian ulama, bahwa ungkapan yang dipakai dalam akad nikah tidak diharuskan menggunakan bahasa Arab.[2]

Sebagian ulama seperti Imam Khomeini Ra dalam bab ini mengatakan bahwa: jika seorang mukallaf tidak mampu mengucapkan formula (sigah) dalam bahasa Arab, walaupun dalam hal ini ia boleh mewakilkannya, maka dibolehkan baginya membaca akad dengan selain bahasa Arab.[3] Demikian juga, doa-doa tidak selalu diharuskan dibaca dengan bahasa Arab.

Oleh karena itu, doa dalam shalat pun diperbolehkan disampaikan dengan bahasa selain Arab. Sesuai fatwa mayoritas Marja Taklid, dalam shalat juga pada selain dzikir-dzikir wajib dan khususnya pada saat qunut, ia dapat berdoa dengan bahasa selain Arab.[4]

Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan ada 10 Alasan Mengapa Sholat Harus Menggunakan Bahasa Arab

1. Untuk menjaga dan memelihara shalat sepanjang perjalanan abad dan masa tanpa adanya pengurangan dan penambahan.

2. Agar tidak terjadi penambahan dan pengurangan lafaz

3. berpengaruh pada kewajiban-kewajiban dan rukun-rukun shalat lainnya.

4. Menjaga inti shalat agar tidak hilang

5. supaya segala sesuatunya terpelihara dan terjaga selamanya sepanjang sejarah

6. Sebagai Kriteria Atau Ciri Khas

7. Sebagai bahasa persatuan

8. Bahasa yang paling komplit

9. Bahasa Arab adalah Akar dari Bahasa Dunia

10. Menjaga Kemurnian Al-Quran

Nah itulah 10 Alasan Mengapa Sholat Harus Menggunakan Bahasa Arab

Catatan Kaki:

[1]. Al-Mizân, jil. 4, hal. 160; Tafsir Nemune, jil. 9, hal. 300 dan jil. 13, hal. 311.

[2]. Mu’allaqât-e Ayatullâh Gerâmi, jil. 4, hal. 645.

[3]. Urwat al-Wutsqâ, jil. 1, hal. Hasyiyeh hal. 645

[4]. Taudhi al-Masâil Marâjî’, jil. 1, hal. 62.

[5] http://tiyan.multiply.com/journal/item/18 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
islamiahid
Written by
islamiahid
Join the discussion

Mengenai Islamiah.id

Mengingat kemajuan teknologi yang terus berkembang kami pun sadar Website merupakan salah satu media dakwah yang cocok untuk digunakan. Hingga pada tanggal 2 Desember 2018 lahirlah Islamiah.id